"MENCINTAIMU ADALAH SEBUAH KEPUTUSAN" (True Story Utsman R.a By Anis Mata Lc)

Rasa terimakasihku yang teramat banyak untuk engkau isteriku...terimakasih juga untuk engkau wahai Rabbku sang maha pemberi dan pengabul doa, sungguh pilihan engkau adalah yang terbaik untukku, perlahan itu kupelajarai bagaimana engkau Rabbku, memilih dia untuk menjadi pendamping hidupku yang pada awalnya tak pernah terfikir atau merasa bahwa dia untukku.

Bagaimana Engkau memudahkan jalanku untuk meminangnya.... Bagaimana Engkau Rabbku..perlahan membuka tabir bagaimana dia istriku dengan segala kelebihan dan kurangnya...sungguh aku berterima kasih....bagaimana lemahnya dia...sungguh Engkau rabbku lebih mengetahuinya dari pada aku....

Pandangan mataku mungkin salah tapi Engkau Rabbku tidak pernah salah.. dan aku yakin itu...memahami dan mencintainya adalah keputusanku..seperti Engkau memberi amanahku bahwa dia ada untuk ku....seperti engkau beri amanah kami untuk mempunyai anak segera..sungguh aku berterima kasih...atas segala nikmatmu
Rabbku...

Doa dan harap kami...Rabbana Hablana Minazwajina Wadzuriyatina Qurrota Ayun Waj Alna lil muttaqina imama.....

seperti apa yang tertulis diatas..mungkin cerita / tulisan singkat dibawah ini bisa bermanfaat buat semua bagiamana mencintai itu adalah sebuah keputusan... bagaimana melibatkan hati dan Allah dalam segenap keputusan itu ketika engkau mencintai seseorang......

Mencitaimu adalah Keputusan....


Lelaki tua menjelang 80 an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar... Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian ia pun berkata, “Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui disini.” Itulah kalimat utama Ustman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.

Bahwa cinta adalah kata lain dari memberi…dan memberi adalah pekerjaan…dan pekerjaan cinta adalah siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat… dan pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama… dan pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh… maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “aku mencintaimu.” Kepada siapapun!

Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian disitu. “Aku mencintaimu” adalah ungkapan lain dari, “aku ingin memberimu sesuatu.” Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari, “Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia… aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin… aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu… aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu…” Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap proses integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang “aku mencintaimu”, kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tetapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.

Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi : cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga , keempat dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.

Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks dimana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi sulit. Disitu konsistensi teruji. Disitu juga integritas terbukti . Sebab mereka yang bias mengejawantahkan cinta ditengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.

Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia-sebahagianya. Puas-sepuasnya. Samapai tidak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pecinta mati. Begitulah Naila Ustman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tidak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.

MENCINTAI adalah bahasa yang general antara seseorang dengan yang lain; orang tua pada anak, anak pada orang tua, pimpinan pada bawahan, bawahan pada pimpinan,seseorang pada pasangannya atau sesama sahabat, dsb. Kisah di atas hanya sebuah inspirasi yang mudah2an memberi spirit positif dalam memberikan cinta dengan lingkup masing2 kita dan kepada siapapun (bukan cuma terhadap pasangan..) Tentulah tangga seorang Usman adalah tangga sahabat dengan keagungan dan kemuliannya yang pasti kita tak menyamainya. Tpi ada yang bisa kita ambil dari penggalan kisah itu...(moga bermanfaat...),

akhir kata saya mohon maaf apabila ada kesalahan
wassalamu`alaikum Wr Wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda Tulis disini :