Ilham Bintang (Pelopor Infotainment): Kasus Luna Maya Anggap Saja Kasus Tukang Copet
Rachmadin Ismail - detikNews
Jakarta - Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat Ilham Bintang menilai kasus artis Luna Maya sebenarnya bukanlah hal penting sampai menyita harus perhatian serius wartawan. Untuk itu, kasus tersebut tidak perlu diperpanjang.
"Luna, tidak penting. Kasusnya pun tidak penting. Bukan sengketa berita" kata Ilham pada detikcom, Jumat(18/12/2009).
Menurut Ilham, Luna bukan artis penting walaupun terkenal. Kekasih Ariel itu juga bukan pejabat negara atau penentu kebijakan yang keputusannya bisa mengganggu dan membahayakan keselamatan wartawan dan kemerdekaan pers.
"Kata katanya yang kotor hanya berdampak pada dirinya sendiri. Kata orang, ucapan dan perbuatan menjelaskan pikiran si pengucap. Kotor ucapannya seperti itulah pikirannya. Pers tidak akan jatuh atau terhina oleh perkataan Luna. Memangnya Luna bisa mempengaruhi masyarakat," tambah Ilham.
Tapi dari kasus Luna, wartawan infotainment bisa mendapat pelajaran berharga. Yaitu jangan mudah menokohkan seseorang yang tak jelas rekam jejaknya, labil emosi, tak terpelihara perkataannya.
Mengenai pengaduan infotainment ke polisi Ilham menyetujui dengan catatan kasus itu dihadapi seperti kasus pencopetan saja. "Kita kesal karena yang nyopet orang yang kita kenal," kata Ilham mengilustrasikan.
Menurut Ilham, laporan polisi itu bisa dimaknai bahwa infotainment cukup dewasa menyikapi kasus Luna. Tidak sampai menggunakan medianya untuk berperang dengan Luna. Tidak mau berpolemik panjang dan terjebak saling melempar kata kata kotor seperti yang menjadi tren di kalangan politisi.
"Cukup bersikap demokratis karena tidak merasa benar sendiri. Mereka menyerahkan pengujian atas siapa yang salah dan siapa yang benar melalui proses hukum. Hanya saja, tidak perlu menggunakan pasal 2 UU ITE karena pasal 2 dalam UU itu sudah lama ditolak wartawan karena mengancam kemerdekaan pers. Pasal penghinaan dalam KUHP cukuplah," paparnya.
Ilham, yang juga dikenal sebagai pelopor infotainment di Indonesia menyarankan sebenarnya akan lebih baik jika kedua pihak menempuh cara damai saling memaafkan. "Yang waras ngalah," katanya mengunci keterangan. (mad/asy)
Komentar-komentar:
# "Entertainment mata duitan..
demi uang jedotin anak orang..
kalo tuh entertainment ntar menang 1M duit di pengadilan,
jedotin aja rame2.. ambil duitnye..trus kite minta maap..
alasannya: cari duit.dia bakal maki2 juga gak ye..?
# "inpotenmen gudangnya gosip murahan gudangnya fitnah...n fitnah itu emang lbh kejam dr pembunuh....ngga ada yg salah kok ama komen si luna...
# "coba ya, Mbak Ilham Bintang... kalo Luna nggak penting, ngapain anak buah Mbak, para pekerja itu ngekor Luna kemana2...
# "Ini nih yg kt peribahasa tepuk air di dulang terpercik muka sendiri...dy bilang omongan itu mencerminkan pribadi orgnya..nah klo anak2 buah ilham bintang yg suka bongkar2 aib org,menjelek2an,maksa org utk wawancara itu kira2 pribadinya gmana yah...anak buahnya aja gitu apalagi bos nya...
Metrotvnews.com, Jakarta: Luapan emosi artis Luna Maya terhadap pekerja infotainment dalam situs jejaring sosial Twitter menuai kontroversi. Organisasi wartawan pun terbelah. Apabila pegiat infotainment memilih memboikot dan mengadukan Luna ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik, sejumlah organisasi jurnalis justru mendukung sang artis.
Tentu, dukungan terhadap Luna tidak diwujudkan dengan mencaci-maki pekerja infotainment di akun pribadi. Namun, organisasi jurnalis menyayangkan penggunaan Undang-Undang Informasi dan Traksaksi Elektronik yang dikenal berpasal karet untuk menjerat Luna Maya.
Sekjen Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Bekti Nugroho mengatakan, pegiat infotainment yang diwakili Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya terlalu gegabah mengambil langkah ke polisi. Padahal, masalah yang menimpa Luna dan pegiat infotaimeint hanya masalah salam paham semata.
Di sisi lain, kata Bekti, media infotainment seharusnya introspeksi diri dari kejadian ini. Karena mereka seringkali melanggar kode etik jurnalistik dan mengakibatkan artis-artis marah. Ia menyarankan masalah ini diadukan ke Dewan Pers. Lembaga inilah yang akan memediasi kedua belah pihak.
Dukungan terhadap Luna Maya juga didapat dari situs jejaring sosial Facebook. Salam sebuah akun bernama "Bebaskan Luna Maya dari Undang-Undang ITE" yang diprakarsai Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia lebih dari 2.000 pengunjung menolak penggunaan undang-undang itu untuk menjerat Luna Maya.
Komentar-komentar
# "hahaha... akhirnya senjata makan tuan,, infotaiment memang sangat meresahkan, menyajikan kehidupan semu yang dibuat-buat seolah negara kita ini negara barbarian, kawin cerai, selingkuh, rebutan maupun gonta-ganti pacar, gay, lesbian, kumpul kebo diberitakan secara besar-besaran dan berulang-ulang.. tayangan yang sangat merusak dengan efek jangka panjang. Begitukah kerja wartawan? saya rasa tidak!
# "Tanpa melihat itu luna maya atau siapapun, please deh be honest to our deep heart, siapapun kalau diperlakukan seperti itu, dikelilingin microphone di depan muka satu inchi, mau jalan susah karena dikelilingin wartawan, ditepis dikit ajah ajah microphone atau kameranya langsung marah marah, tapi kalau microphone atau kamera mereka kena kepala anak kecil, LIhat apa yang terjadi. DImana sih hati mereka, sepenting apa adanya infotainment dalam kehidupan penonton?bukannya kalau tidak ada infotainment juga malah mengurangi dosa tidak ada fitnah lagi.Masyarakat sekarang sudah pintar, walau berusaha di cuci otak oleh kata kata yang dipelesetkan tapi kita juga bisa mendengar dan melihat yang benar.
Itulah secuil opini seputar kasus luna maya yang dicuplik dari Goggle Search Engine:"Luna Maya Terjebak Pasal Karet". Walah..bingung jga ngeliat potret kontradiktif kyak gini. Tp ngapain bingung2, qt cb ambil hikmahnya aj dari fenomena ini. Pada prinsipnya menempatkan salah dan benar itu bukan dari opini dan bukan juga qta mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi yang dimaksud hikmah disini adalah bagaimana sudut pandang yang benar? dan kesalahan
apa yang terjadi di masyarakat kita, karena aksi reaksi itu adalah sebab akibat. Kesalahan seseorang pasti ada saham kesalahan pihak lain dan sebaliknya.
Dalam Islam ada sifat-sifat yang dibenci dan tidak dibenarkan apapun alasanny seputar membuka aib orang lain(Ghibah,Fitnah,Adu domba, Red). Apapun tujuan, maksud dsb hal ini bukan cara pembimbingan dan pembinaan pribadi yang dicontohkan Rasul. Karena hasilnya bukan sebuah kearifan,kesadaran akan kesalahan apalagi perbaikan.
Namun sebaliknya buah dari itu hanyalah emosional, kekecewaan, kebencian,permusuhan yang justru semakin merusak pribadi objek yang digunjing / fitnah dsb...(Naudzubillah...). Walaupun mungkin saja ada sosok2 yang mampu mengambil langkah positif dengan dighibah, fitnah bahkan provokasi / adu domba, tp secara emosi butuh perjuangan besar dan tetap bukan berarti culture menggunjing dkk itu dibenarkan.
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang". (Qs.49:12)
"Ada dua keburukan dari manggunjingkan aib seseorang : jika benar adanya maka ghibah, jika tidak benar maka fitnah, dan keduanya buruk dan dibenci Allah". (Al-Hadits)
So...Terlepas dari kasus Luna n siapapaun, hikmahnya butuh perbaikan dan perubahan
pada masyarakat kita, habits kita...Kepentingan lebih di no 1 kan daripada nilai dan norma yang benar, emosi dan ego mengalahkan perbaikan dan solusi. Klo seorang luna sampe punya perilaku sompral, bicara kotor n emosi labil...ya itu ibarat tanam jeruk buahnya ya jeruk juga...(Pribadi,lingkungan, masyarakat g bsa dipisahkan). Perubahan bukan untuk pribadi, bukan untuk seorang "Luna, tapi untuk semua...
(Wallaahu alam....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda Tulis disini :